“Majunya
sebuah bangsa maupun daerah dikarenakan merosotnya moral manusia”. Mungkin
inilah yang dapat kita katakan, walaupun yang sebenarnya bukan begitu
pengertian yang sesungguhnya.
Bak
seorang wanitia tua yang begitu cantik jika dilihat dan begitu mempesona jika
dipandang. Namun sungguh begitu lemah fisiknya. Pernahkan kita membayangkan
bagaimana seorang nenek yang berumur 70 tahun dalam menilai dirinya?
![]() |
| Fahmi Ubit (Direktur Umum) |
Pasti
kesimpulan dari pada jawaban yang akan terjawab tentunya berupa suatu
“kehidupan yang cepat berlalu” dan akan berkomentar bahwa hidupnya tidaklah
“panjang” sebagaiman impiannya di usia belasan. Mungkin tak pernah terlintas
dalam benaknya bahwa suatu hari ia akan menjadi begitu tua. Namun kini, ia
mencekam oleh kenyataan bahwa ia telah meninggalkan tujuh puluh tahun di
belakangnya. Ketika muda, mungkin tak pernah terfikir olehnya bahwa kebeliaan
dengan segala gairahnya akan berlalu begitu cepat.
Bila
pada usia senja ia diminta untuk menceritakan kisah hidupnya, kengannya akan
terangkum dalam pembicaraan selam lima atau enam jam saja. Hanya itulah yang
tersisa dari yang disebutnya sebagai
“masa tujuh puluh tahun yang panjang”.
Daya
pikir seseorang, yang melemah sesuai usia, dipenuhi banyak pertanyaan. Berbagai
pertanyaan ini sungguh penting untuk direnungkan, dan menjawabnya secara jujur
sangat mendasar untuk memahami seluruh aspek kehidupan : “apakah tujuan hidup
yang berlalu begitu cepat ini? Mengapa aku harus terus bersikap positif dengan
semua masalah kerentaan yang kumiliki? Apa yang kan terjadi di masa depan?”.
Begitulah sekilas kutipan dari buku Harun Yahya yang berjudul “hakikat
kehidupan” yang jawabannya sama-sama kita jawab dengan hati nurani kita masing
selaku hamba-Nya yang hidup didunia yang mana semakin hari semakin kuat
peradaban barat menguasai perilaku kita sehari-hari.
Pengaruh Globalisasi
Sebagaimana
fenomena saat ini yang terjadi di bumi Iskandar Muda yang terkenal dengan
daerah yang sangat kental akan Islam sehingga mendapatkan title “serambi
mekkah” lambat laun mulai merosot.
Jika
pada masa kecil orang tua sangat menekankan anaknya untuk terus menuntut ilmu
akhirat selain dari ilmu dunia. Kebiasaan ini semakin hilang dari kehidupan
kita. Balai pengajian semakin ketinggalan, jamaah mulai hilang apalagi
kebiasaan silaturrahmi. Akan tetapi justru berlomba-lomba untuk mengejar ilmu
dunia. Ditambah lagi dengan kemudahan yang diberikan kepada kita berkat
kecanggihan teknologi seperti : hand phone dan internet.
Ini
semua tidak terlepas dari sebuah sistem yang dibuat secara khusus sehingga kita
lupa akan tugas dan fungsi kita sebagai hamba-Nya yang hidup di dunia yang mana
merupakan tempat di ujinya kita apakah kita sadar atau tidak.
Pengaruh Demokrasi
Demokrasi
merupakan sebuah sistem yang membuat kita bebas melakukan apa saja, namun tidak
terlepas dengan koridor hukum yang telah tercantum, baik itu hukum perdata
maupun hukum pidana.
Sistem
demokrasi saat ini sudah menjadi pintu kebebasan bagi semua komponen masyarakat,
terutama untuk berekspresi dan mengutamakan hak dalam segala ruang. Tidak hanya
politik, demokrasi juga menyentuh ranah social, dimana hak seseorang tidak
boleh diganggu gugat oleh orang lain meskipun hak itu tidak dibenarkan menurut
adat dan budaya setempat (lokal). Namun, demokrasi melegalkannya tanpa harus
memahami adat setempat.
Berkat
demokrasi sekarang sangat banyak masyarakat mulai dari umur belasan sampai
kepada yang sudah mempunyai kepala tiga yang sudah bebas dari nilai adat dan
budaya sendiri. Sebagai contoh, dalam kehidupan bermasyarakat para generasi
muda sudah tidak lagi menghormati dan menghargai orang yang lebih dewasa (orang
yang seharusnya mereka hormati) hanya karena factor kekuasaan dan kekayaan,
berpakaian yang tidak sepatutnya digunakan, dan berpacaran yang luar biasa di
tempat umum sebagaimana orang barat, termasuk dalam hal perjudian. Ini adalah
tanda-tanda kecacatan etika dan moral. Inilah yang sangat meresahkan kita yang
hidup di bumi yang mendapatkan title Serambi
Mekkah ini.
Khusus
di Pidie dan umunya di Aceh, padahal dalam hal penegakan Syariat Islam, pihak
pemerintah telah membentuk sebuah wadah yang mana untuk mencegah hal yang tidak
sesuai dengan budaya dan adat Aceh. Persolaan pihak penegak Syariat Islam yang
telah ditetapkan oleh pemerintah bukan lah semata-mata tugas mereka, akan
tetapi ini menyangkut pribadi masyarakat menyangkut etika dan budaya.
Apakah
ini pertanda bahwa dunia ini sudah sangat dekat akan kiamat hanya Dia (Allah)
yang tahu.
Riwayat
Penulis
Nama :
Zulfahmi Ubit
Alamat : Keulibeut,
Ulee Tutue
Kabupaten : Pidie
Kecamatan : Pidie
Pekerjaan : Mahasiswa/Kader HMI
Cabang Sigli
Agama
: Islam

0 komentar:
Posting Komentar