Minggu, 24 Juni 2012

Hilangnya Moralitas Anak Aceh



“Majunya sebuah bangsa maupun daerah dikarenakan merosotnya moral manusia”. Mungkin inilah yang dapat kita katakan, walaupun yang sebenarnya bukan begitu pengertian yang sesungguhnya.
Bak seorang wanitia tua yang begitu cantik jika dilihat dan begitu mempesona jika dipandang. Namun sungguh begitu lemah fisiknya. Pernahkan kita membayangkan bagaimana seorang nenek yang berumur 70 tahun dalam menilai dirinya?
Fahmi Ubit (Direktur Umum)
Pasti kesimpulan dari pada jawaban yang akan terjawab tentunya berupa suatu “kehidupan yang cepat berlalu” dan akan berkomentar bahwa hidupnya tidaklah “panjang” sebagaiman impiannya di usia belasan. Mungkin tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari ia akan menjadi begitu tua. Namun kini, ia mencekam oleh kenyataan bahwa ia telah meninggalkan tujuh puluh tahun di belakangnya. Ketika muda, mungkin tak pernah terfikir olehnya bahwa kebeliaan dengan segala gairahnya akan berlalu begitu cepat.
Bila pada usia senja ia diminta untuk menceritakan kisah hidupnya, kengannya akan terangkum dalam pembicaraan selam lima atau enam jam saja. Hanya itulah yang tersisa dari yang disebutnya  sebagai “masa tujuh puluh tahun yang panjang”.
Daya pikir seseorang, yang melemah sesuai usia, dipenuhi banyak pertanyaan. Berbagai pertanyaan ini sungguh penting untuk direnungkan, dan menjawabnya secara jujur sangat mendasar untuk memahami seluruh aspek kehidupan : “apakah tujuan hidup yang berlalu begitu cepat ini? Mengapa aku harus terus bersikap positif dengan semua masalah kerentaan yang kumiliki? Apa yang kan terjadi di masa depan?”. Begitulah sekilas kutipan dari buku Harun Yahya yang berjudul “hakikat kehidupan” yang jawabannya sama-sama kita jawab dengan hati nurani kita masing selaku hamba-Nya yang hidup didunia yang mana semakin hari semakin kuat peradaban barat menguasai perilaku kita sehari-hari.

Pengaruh Globalisasi
Sebagaimana fenomena saat ini yang terjadi di bumi Iskandar Muda yang terkenal dengan daerah yang sangat kental akan Islam sehingga mendapatkan title “serambi mekkah” lambat laun mulai merosot.
Jika pada masa kecil orang tua sangat menekankan anaknya untuk terus menuntut ilmu akhirat selain dari ilmu dunia. Kebiasaan ini semakin hilang dari kehidupan kita. Balai pengajian semakin ketinggalan, jamaah mulai hilang apalagi kebiasaan silaturrahmi. Akan tetapi justru berlomba-lomba untuk mengejar ilmu dunia. Ditambah lagi dengan kemudahan yang diberikan kepada kita berkat kecanggihan teknologi seperti : hand phone dan internet.
Ini semua tidak terlepas dari sebuah sistem yang dibuat secara khusus sehingga kita lupa akan tugas dan fungsi kita sebagai hamba-Nya yang hidup di dunia yang mana merupakan tempat di ujinya kita apakah kita sadar atau tidak.
Pengaruh Demokrasi
Demokrasi merupakan sebuah sistem yang membuat kita bebas melakukan apa saja, namun tidak terlepas dengan koridor hukum yang telah tercantum, baik itu hukum perdata maupun hukum pidana.
Sistem demokrasi saat ini sudah menjadi pintu kebebasan bagi semua komponen masyarakat, terutama untuk berekspresi dan mengutamakan hak dalam segala ruang. Tidak hanya politik, demokrasi juga menyentuh ranah social, dimana hak seseorang tidak boleh diganggu gugat oleh orang lain meskipun hak itu tidak dibenarkan menurut adat dan budaya setempat (lokal). Namun, demokrasi melegalkannya tanpa harus memahami adat setempat.
Berkat demokrasi sekarang sangat banyak masyarakat mulai dari umur belasan sampai kepada yang sudah mempunyai kepala tiga yang sudah bebas dari nilai adat dan budaya sendiri. Sebagai contoh, dalam kehidupan bermasyarakat para generasi muda sudah tidak lagi menghormati dan menghargai orang yang lebih dewasa (orang yang seharusnya mereka hormati) hanya karena factor kekuasaan dan kekayaan, berpakaian yang tidak sepatutnya digunakan, dan berpacaran yang luar biasa di tempat umum sebagaimana orang barat, termasuk dalam hal perjudian. Ini adalah tanda-tanda kecacatan etika dan moral. Inilah yang sangat meresahkan kita yang hidup di bumi yang mendapatkan title Serambi Mekkah ini.
Khusus di Pidie dan umunya di Aceh, padahal dalam hal penegakan Syariat Islam, pihak pemerintah telah membentuk sebuah wadah yang mana untuk mencegah hal yang tidak sesuai dengan budaya dan adat Aceh. Persolaan pihak penegak Syariat Islam yang telah ditetapkan oleh pemerintah bukan lah semata-mata tugas mereka, akan tetapi ini menyangkut pribadi masyarakat menyangkut etika dan budaya.
Apakah ini pertanda bahwa dunia ini sudah sangat dekat akan kiamat hanya Dia (Allah) yang tahu.
Riwayat Penulis
Nama                            : Zulfahmi Ubit
Alamat                          : Keulibeut, Ulee Tutue
Kabupaten                    : Pidie
Kecamatan                   : Pidie
Pekerjaan                     : Mahasiswa/Kader HMI Cabang Sigli
Agama                         : Islam
Email/Contact Person   : zulfahmi_ubit@yahoo.com   / 0853 1073 6398

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com