Mahasiswa; Antara
Gerakan Moral Dan Kepentingan Politik
Praktis
Oleh
Fahmi
Ubit
Mahasiswa Indonesia menurut intensitas perannya di dunia politik
dihadapkan pada 2 pilihan yakni professionalisme atau activisme. Penganut
profesionalisme akan dapat dengan mudah kita temui disetiap penjuru kampus
terutama pada mahasiswa-mahasiswa yang relatif mapan,aktifitasnya akan
melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang selalu berkutat pada persoalan
intrakulikuler tak akan jauh berbicara pada persoalan kuliah, riset dan aktivitas
akademis lainya dan cenderung kurang peka terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi dilingkungan sosial/masyarakat. Sedangkan untuk mahasiswa tipe
activisme, selain berbicara persoalan akademis juga memainkan peran sosialnya,
melibatkan diri dalam masalah-masalah strategis politik baik political power
maupun political culture.
Keterlibatan mahasiswa dalam percaturan politik tidaklah dapat
dihindarkan. Hal ini difahami dalam suatu perspektif, bahwa mahasiswa ”concern”
terhadap permasalahan umat dan bangsa guna mewujudkan suatu tatanan kehidupan
yang lebih demokratis. Mahasiswa meresponkondisi politik yang ada dari luar
struktur atau diluar lembaga politik,gerakan politik seperti ini di kategorikan
sebagai pressure politics Kadang ini juga tidak akan berjalan
dengan mudah dan segampang yang diperkirakan tetap saja dalam perjalanannya
akan menghadapi berbagai hambatan terutama hal yang berkaitan dengan tantangan
eksternal terutama persoalan kekuasaan, baik itu perebutan kekuasaan (pengaruh)
maupun meraih simpati penguasa. Disini terkadang mahasiswa akan bersifat
ambivalen.
Disatu sisi kekuasaan akan dapat merealisir gagasan yang dimiliki
serta pandangan yang ada, disisi lain kekuasan cenderung mengekang kebebasan
terutama yang bersifat vasted interst. Sedangkan penguasa disatu
sisi akan dapat memberikan suport pada aktivitas yang dilakukan mahasiswa namun
terkadang juga dapat dengan leluasa melakukan intervensi terhadap
gerakan–gerakan mahasiswadengan mudah. Kondisi seperti inilah yang akan membuat
dilematis dalam perjalanan pergerakan mahasiswa yang ada. Bagaimana
memposisikan diri dalam lingkungan kekuasaan atau diluar lingkaran kekuasaan.
Menurut teori David McClelland, menyebutkan ada 3 keinginan atau hasrat
seseorang yaitu pertama, need for achievment (keinginan untuk berprestasi).
Kedua, need for affiliation(keinginan untuk popular dan disenangi
banyak orang) dan ketiga , need for power (keinginan untuk
berkuasa) hal terakhir inilah yang kadang banyak menjadi perhatian
sebagian ”pejuang-pejuang” mahasiswa yang tentunya akan menyamarkan
arah gerak perjuangan dari pergerakan mahasiswa belakangan ini.
Seharusnya moral force yang diusung mahasiswa tidak boleh
terkontaminasi dengan urusan-urusan kekuasaan dan politik kepentingan lainnya
selain untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas, rakyat. Lebih naifnya lagi
jika memperebutkan atau berdekatan dengan kekuasaan hanya untuk memenuhi
kepuasaan pribadi seperti mencari benefit secara individu ”Dengan motto mumpung
ada kesempatan kapan lagi?” . ironis sekali memang ika nilai luhur yang melekat
pada mahasiswa berupa idealisme harus tergadaikan dengan rupiah bahkan mungkin
diobral murah, terjebak dalam frame berfikir pragmatisme dan oportunisme.
Serta yang sangat disayangkan lagi ada gerakan-gerakan segelintir
mahasiswa yang berkedok gerakan moral dengan berafiliasi pada kekuatan atau
partai politik tertentu. Jelas-jelas hal tersebut sebagai ambisi semata yang
mempergunakan mahasiswa sebagai komoditi menarik massa simpatisan dengan
menafikkan independensi mahasiswa itu sendiri,sedangkan partai politik tersebut
hanya digunakan oleh oknum mahasiswa sebagai kendaraan untuk memperoleh
kekuasaan. Apapun bentuk perjuangan yang telah teralienasi menjadi underbow kekuatan
politik tertentu akan menyebabkan perpendaranarah gerak serta konsistensi
terhadap socialmovement-nya akan dipertanyakan. Jika hal ini
terus menerus berkembang maka gerakan mahasiswa akan ternodai, lama-kelamaan
tidak akan mendapat respons positif dari masyarakat dan menjadi preseden buruk
bagi pergerakan mahasiswa lainnya. Sangat disayangkan jika gerakan yang mulanya
bertujuan untuk masyarakat harus kehilangan simpati dan dinilai bukan lagi
gerakan moral berdasarkan hati nurani namun berdasarkan ambisi kepentingan
pribadi hanya ulah oknum-oknum mahasiswa. Untuk itu perlunya rekonstruksi
kesadaran akan nilai-nilai idealisme dan independensi dalam setiap gerakan
mahasiswa yang diletakkan sebagai basis kekuatan utama untuk menghadapi
tantangan yang lebih global. Dengan begitu mahasiswa akan tetap menjadi pelopor
perubahan ” agent of change” dimanapun berada.
Biodata Penulis:
Nama :
Zulfahmi Ubit
NIK :
1107162706900006
Tempat/Tgl Lahir :
Ulee Tutue/27 Juni 1990
Jenis Kelamin :
Laki-Laki
Alamat :
Keulibeut Ulee Tutue Kec. Pidie. Kab. Pidie
Agama :
Islam
Pekerjaan :Mahasiswa/Kader
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sigli
0 komentar:
Posting Komentar