Jumat, 16 Maret 2012


Mahasiswa; Antara Gerakan Moral  Dan Kepentingan Politik Praktis
Oleh
Fahmi Ubit
Mahasiswa Indonesia menurut intensitas perannya di dunia politik dihadapkan pada 2 pilihan yakni professionalisme atau activisme. Penganut profesionalisme akan dapat dengan mudah kita temui disetiap penjuru kampus terutama pada mahasiswa-mahasiswa yang relatif mapan,aktifitasnya akan melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang selalu berkutat pada persoalan intrakulikuler tak akan jauh berbicara pada persoalan kuliah, riset dan aktivitas akademis lainya dan cenderung kurang peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dilingkungan sosial/masyarakat. Sedangkan untuk mahasiswa tipe activisme, selain berbicara persoalan akademis juga memainkan peran sosialnya, melibatkan diri dalam masalah-masalah strategis politik baik political power maupun political culture.
Keterlibatan mahasiswa dalam percaturan politik tidaklah dapat dihindarkan. Hal ini difahami dalam suatu perspektif, bahwa mahasiswa ”concern” terhadap permasalahan umat dan bangsa guna mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih demokratis. Mahasiswa meresponkondisi politik yang ada dari luar struktur atau diluar lembaga politik,gerakan politik seperti ini di kategorikan sebagai pressure politics Kadang ini juga tidak akan berjalan dengan mudah dan segampang yang diperkirakan tetap saja dalam perjalanannya akan menghadapi berbagai hambatan terutama hal yang berkaitan dengan tantangan eksternal terutama persoalan kekuasaan, baik itu perebutan kekuasaan (pengaruh) maupun meraih simpati penguasa. Disini terkadang mahasiswa akan bersifat ambivalen.
Disatu sisi kekuasaan akan dapat merealisir gagasan yang dimiliki serta pandangan yang ada, disisi lain kekuasan cenderung mengekang kebebasan terutama yang bersifat vasted interst. Sedangkan penguasa disatu sisi akan dapat memberikan suport pada aktivitas yang dilakukan mahasiswa namun terkadang juga dapat dengan leluasa melakukan intervensi terhadap gerakan–gerakan mahasiswadengan mudah. Kondisi seperti inilah yang akan membuat dilematis dalam perjalanan pergerakan mahasiswa yang ada. Bagaimana memposisikan diri dalam lingkungan kekuasaan atau diluar lingkaran kekuasaan. Menurut teori David McClelland, menyebutkan ada 3 keinginan atau hasrat seseorang yaitu pertama, need for achievment (keinginan untuk berprestasi). Kedua, need for affiliation(keinginan untuk popular dan disenangi banyak orang) dan ketiga , need for power (keinginan untuk berkuasa) hal terakhir inilah yang kadang banyak menjadi perhatian sebagian  ”pejuang-pejuang” mahasiswa yang tentunya akan menyamarkan arah gerak perjuangan dari pergerakan mahasiswa belakangan ini.
Seharusnya moral force yang diusung mahasiswa tidak boleh terkontaminasi dengan urusan-urusan kekuasaan dan politik kepentingan lainnya selain untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas, rakyat. Lebih naifnya lagi jika memperebutkan atau berdekatan dengan kekuasaan hanya untuk memenuhi kepuasaan pribadi seperti mencari benefit secara individu ”Dengan motto mumpung ada kesempatan kapan lagi?” . ironis sekali memang ika nilai luhur yang melekat pada mahasiswa berupa idealisme harus tergadaikan dengan rupiah bahkan mungkin diobral murah, terjebak dalam frame berfikir pragmatisme dan oportunisme.
Serta yang sangat disayangkan lagi ada gerakan-gerakan segelintir mahasiswa yang berkedok gerakan moral dengan berafiliasi pada kekuatan atau partai politik tertentu. Jelas-jelas hal tersebut sebagai ambisi semata yang mempergunakan mahasiswa sebagai komoditi menarik massa simpatisan dengan menafikkan independensi mahasiswa itu sendiri,sedangkan partai politik tersebut hanya digunakan oleh oknum mahasiswa sebagai kendaraan untuk memperoleh kekuasaan. Apapun bentuk perjuangan yang telah teralienasi menjadi underbow kekuatan politik tertentu akan menyebabkan perpendaranarah gerak serta konsistensi terhadap socialmovement-nya akan dipertanyakan. Jika hal ini terus menerus berkembang maka gerakan mahasiswa akan ternodai, lama-kelamaan tidak akan mendapat respons positif dari masyarakat dan menjadi preseden buruk bagi pergerakan mahasiswa lainnya. Sangat disayangkan jika gerakan yang mulanya bertujuan untuk masyarakat harus kehilangan simpati dan dinilai bukan lagi gerakan moral berdasarkan hati nurani namun berdasarkan ambisi kepentingan pribadi hanya ulah oknum-oknum mahasiswa. Untuk itu perlunya rekonstruksi kesadaran akan nilai-nilai idealisme dan independensi dalam setiap gerakan mahasiswa yang diletakkan sebagai basis kekuatan utama untuk menghadapi tantangan yang lebih global. Dengan begitu mahasiswa akan tetap menjadi pelopor perubahan ” agent of change” dimanapun berada.

Biodata Penulis:
Nama                                       : Zulfahmi Ubit
NIK                                         : 1107162706900006
Tempat/Tgl Lahir                      : Ulee Tutue/27 Juni 1990
Jenis Kelamin                           : Laki-Laki
Alamat                                     : Keulibeut Ulee Tutue Kec. Pidie. Kab. Pidie
Agama                                     : Islam
Pekerjaan                                 :Mahasiswa/Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sigli

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com